
Pada musim haji berikutnya seorang musafir Ahli Yaman yang menjadi saksi kematian buruh tersebut melaporkan bahwa pembantu Bani Hasyim yang beretnis Kuraisy itu sebenarnya telah dibunuh oleh majikannya. Seketika itu pula Abu Thalib memanggil sang majikan dengan memberikan tiga opsi:
- Apabila kesaksian tersebut benar dan sang majikan mengakui maka ia harus membayar denda 100 onta.
- Apabila sang majikan tidak mengakui maka ia harus mendatangkan 50 orang saksi untuk bersumpah.
- Pilihan ketiga adalah Sang majikan, pelaku pembunuhan itu langsung dihukum mati.
Tiga pilihan putusan hukum itu kemudian di adopsi dan diterapkan oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu syariat Islam. Ini merupakan bukti bahwa Islam menghargai dan mau menerima aturan non-Islam yang dianggap adil dan baik. Penerapan hukum jahiliayah ke dalam Islam diperkuat dengan hadist no. 4707, 4708 dan 4709
4707 - ... أَحْمَدُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ، وَسُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ، عَنْ رَجُلٍ، مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْأَنْصَارِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَقَرَّ الْقَسَامَةَ عَلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ»
“Sesungguhnya Rasulullah SAW menerapkan sumpah sebagaimana yang berlaku pada masa jahiliyah”.
4708 - ...، عَنْ أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “ أَنَّ الْقَسَامَةَ كَانَتْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَأَقَرَّهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَقَضَى بِهَا بَيْنَ أُنَاسٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فِي قَتِيلٍ ادَّعَوْهُ عَلَى يَهُودِ خَيْبَرَ”
“Maka Rasulullah SAW menerapkan apa-apa yang berlaku pada masa jahiliyah, dan menghukumi dengannya antara manusia dari ansor dalam perkara pembunuhan yang dituduhkan kepada seorang Yahudi dari wilayah Khoibar.
Tidak sampai di situ, ternyata Rasulullah SAW juga menghargai pengakuan dan sumpah dari seorang Yahudi yang sedang berselisih dengan keluarga Muslim. Hadist no. 4710 sampai 4716 menceritakan seorang Muslim bernama Abdullah bin Sahl telah mati terbunuh dan keluarganya menuduh seorang Yahudi sebagai pelakunya. Namun demikian sang Yahudi bersumpah demi Allah bahwa ia tidak melakukannya.
Kemudian Nabi meminta keluarga korban untuk mendatangkan 50 orang saksi yang mau bersumpah, akan tetapi keluarga Abdullah bin Sahl yang terdiri dari Muhaishoh, Huwaishoh dan Abdurohman tersebut tidak bersedia bersumpah karena memang mereka tidak menyaksikan sendiri juga mereka menolak sumpah dari orang Yahudi yang notebene adalah orang kafir.
Terhadap situasi alot yang menegangkan tersebut justru Rasulullah SAW rela berkorban dengan membayar sendiri denda kematian Abdullah bin Sahl sebanyak 100 onta. MASYAALLOH.
Hadist Nasai Kitabu Kosaama secara keseluruhan memberikan pelajaran pada kaum Muslim.
- Seorang muslim hendaknya benar dalam berkata lebih-lebih pernyataan yang di bawah sumpah. Sumpah yang tidak benar berakibat sangsi buruk di dunia maupun di akhirat.
- Umat Islam hendaknya menghargai pengakuan dan sumpah siapapun, sekalipun dia orang non-Muslim. Bila dijabarkan lebih luas lagi, umat Islam harus bisa hidup berdampingan dan saling menghargai dengan kaum non-Muslim.
- Kaum Muslim boleh menerima dan menerapkan nilai-nilai, aturan-aturan, budaya atau etiket yang berlaku dalam masyarakat heterogen atau non-Muslim selagi tidak melanggar syariat Islam.
- Seorang pemimpin hendaknya rela berkorban untuk menciptakan suasana damai antar golongan yang berselisih sebaliknya tidak memanfaatkan situasi dan mengambil keuntungan dari kelompok-kelompok yang berkonflik.